Asmara Yang Tertunda
Fitri, nama gadis itu. Pertama kali kami berjumpa, ia nampak lugu, santun dan sederhana, baik dalam sikap maupun kata-kata. Dia telah lulus SMA di kotanya Padang, dua tahun sebelum tiba di Jakarta untuk bergabung dalam sebuah program study-banding mengenai pengorganisasian masyarakat di dalam dan di luar negeri. Selama itu ia hanya diam di rumah, meningkatkan kemampuan komputer dan bahasa Inggerisnya. Aku tak tahu persis apakah dia masih perawan atau tidak. Yang aku tahu, dia anak tunggal, ayahnya bankir di kotanya, sedang ibunya pernah bekerja sebagai pengacara selama 10 tahun. Usianya 21 tahun, tinggi 168cm, dengan tubuh proporsional dan padat. Dadanya tidak besar. Pinggangnya ramping sekali. Di kemudian hari ketika aku memeluknya, pinggangnya terangkul habis hanya oleh pelukan satu lengan saja. Pinggulnya padat dan terkesan seksi kalau ia mengenakan celana jeans yang selalu membungkus rapat belahan pantatnya yang bercelah agak dalam. Kulitnya sawo matang tapi bersih. Itu membuatnya parasnya manis apalagi mata hitamnya yang bulat itu selalu terlihat cerah. Fitri bergabung ke dalam kelompok yang aku fasilitasi. Sebelum ke lua negeri, semua peserta program ini berkumpul di Jakarta untuk beberapa lokakarya bersama dan sosialisasi semangat kelompok. Sebagian besar peserta belum pernah ke luar negeri sedang setengahnya baru untuk pertama kali keluar dari kotanya. Tiga hari menjelang keberangkatan kami ke Canada, ayah-ibu Fitri datang ke Jakarta. Setiap malam keduanya datang menjenguk putri tunggalnya di pusat persiapan kami, sebuah gedung di Cempaka Putih. Seluruh peserta dibagi dalam lima kelompok. Aku menjadi fasilitator salah satu kelompok yang terdiri dari 7 orang; masing-masing 4 perempuan dan tiga laki-laki dengan usia sekitar 20 s/d 25 tahun.
Di kelompok ini Fitri memang tidak bisa menandingi kecantikan Shira (campuran Bugis-Jerman) , atau kelincahan Irma (puteri asli Timtim berdarah Porto), atau wajah hangat Ratih (gadis periang campuran Sumba-Jawa). Tapi Fitri menarik perhatian. Ia cerdas dan tekun. Kalau melihat punggungnya, pantatnya yang bulat berisi itu selalu nampak merangsang. Sedang dari depan, matanya yang bulat dan hitam di tambah warna kulitnya yang tidak pucat selalu membuat orang kerasan memandangnya berlama-lama. Apalagi Fitri suka mengenakan kemeja dan blue-jeans dan selalu melepas satu kancing bagian atas kemejanya. Gayanya tenang tapi penuh perhatian jika bercakap-cakap dengan orang lain. Ia suka menatap mata lawan bicaranya penuh-penuh. Selama dua minggu berada di Jakarta bersama-sama, kelompok ini kubina agar memiliki spirit sebuah keluarga. Aku sering mencari waktu berbicara dengan mereka, orang-perorang atau orang tuanya yang menjenguk mereka untuk mengetahui pribadi mereka masing-masing. Mungkin karena itu aku dianggap sebagai kakak mereka yang paling sulung. Kami punya waktu sekali dalam dua hari, selama tiga jam untuk bicara dari hati ke hati tentang hal-hal di luar fokus study banding. Dalam banyak kesempatan Fitri membantu saya dalam pengorganisasian kelompok. Ia cepat memahami apa yang harus dikerjakan, tanggap dan mampu melakukan persuasi kepada anggota kelompok lainnya maupoun kepada saya. Dari orang tuanya aku mengetahui Fitri sebagai seorang yang dibiasakan menjadi penurut, disiplin dan santun oleh ibunya. Read more »
Free Download Movie, Free Download Video, Conference Call Service