Sesaat aku terkejut ketika Yuyun telah menanggalkan busananya di
hadapanku, aku hanya terdiam diri dengan terpaku oleh keindahan
tubuhnya. Yuyun adalah kakak pacarku yang bernama Naning. Kami sering
berbicara, jalan-jalan bareng, makan, dan lain-lainnya. Mungkin aku
sudah dianggap keluarga, makanya setiap aku berkunjung ke rumah
Naning sudah seperti rumah sendiri. Masuk sesuka hati dan melakukan
apa saja tidak apa-apa sebatas itu kewajaran.Yuyun sudah memiliki
suami, tetapi entah kenapa hubungan mereka tidak harmonis layaknya
sepasang suami istri. Aku mengetahuinya setelah Yuyun menceritakan
kisah kehidupannya, dan hampir sering diceritakan apa yang terjadi
setiap harinya. Karena Yuyun selalu menelepon ke rumahku, itu biasa
dilakukannya apabila dia sedang bekerja di kantor pada saat jam
istirahat.
Kejadian ini bermula ketika dia berkunjung ke rumahku, sebelumnya dia
meneleponku apa aku ada di rumah atau tidak.
“Dhun… hari ini apa tidak ada acara?” tanyanya kepadaku.
“Tidak ada sih, emangnya ada apa Yun?” tanyaku balik.
“Nggak pa-pa, kalau tidak ada boleh nggak aku maen ke rumahmu?”
sambungnya.
“Oh, nggak pa-pa.. kalau maen ke rumah, silakan aja,” jawabku.
“Tapi saya datangnya sendiri, nggak bersama adikku (maksudnya
Naning).”
“Oh ya, kutunggu ya..” jawabku. Read more »
Fitri, nama gadis itu. Pertama kali kami berjumpa, ia nampak lugu, santun dan sederhana, baik dalam sikap maupun kata-kata. Dia telah lulus SMA di kotanya Padang, dua tahun sebelum tiba di Jakarta untuk bergabung dalam sebuah program study-banding mengenai pengorganisasian masyarakat di dalam dan di luar negeri. Selama itu ia hanya diam di rumah, meningkatkan kemampuan komputer dan bahasa Inggerisnya. Aku tak tahu persis apakah dia masih perawan atau tidak. Yang aku tahu, dia anak tunggal, ayahnya bankir di kotanya, sedang ibunya pernah bekerja sebagai pengacara selama 10 tahun. Usianya 21 tahun, tinggi 168cm, dengan tubuh proporsional dan padat. Dadanya tidak besar. Pinggangnya ramping sekali. Di kemudian hari ketika aku memeluknya, pinggangnya terangkul habis hanya oleh pelukan satu lengan saja. Pinggulnya padat dan terkesan seksi kalau ia mengenakan celana jeans yang selalu membungkus rapat belahan pantatnya yang bercelah agak dalam. Kulitnya sawo matang tapi bersih. Itu membuatnya parasnya manis apalagi mata hitamnya yang bulat itu selalu terlihat cerah. Fitri bergabung ke dalam kelompok yang aku fasilitasi. Sebelum ke lua negeri, semua peserta program ini berkumpul di Jakarta untuk beberapa lokakarya bersama dan sosialisasi semangat kelompok. Sebagian besar peserta belum pernah ke luar negeri sedang setengahnya baru untuk pertama kali keluar dari kotanya. Tiga hari menjelang keberangkatan kami ke Canada, ayah-ibu Fitri datang ke Jakarta. Setiap malam keduanya datang menjenguk putri tunggalnya di pusat persiapan kami, sebuah gedung di Cempaka Putih. Seluruh peserta dibagi dalam lima kelompok. Aku menjadi fasilitator salah satu kelompok yang terdiri dari 7 orang; masing-masing 4 perempuan dan tiga laki-laki dengan usia sekitar 20 s/d 25 tahun.
Di kelompok ini Fitri memang tidak bisa menandingi kecantikan Shira (campuran Bugis-Jerman) , atau kelincahan Irma (puteri asli Timtim berdarah Porto), atau wajah hangat Ratih (gadis periang campuran Sumba-Jawa). Tapi Fitri menarik perhatian. Ia cerdas dan tekun. Kalau melihat punggungnya, pantatnya yang bulat berisi itu selalu nampak merangsang. Sedang dari depan, matanya yang bulat dan hitam di tambah warna kulitnya yang tidak pucat selalu membuat orang kerasan memandangnya berlama-lama. Apalagi Fitri suka mengenakan kemeja dan blue-jeans dan selalu melepas satu kancing bagian atas kemejanya. Gayanya tenang tapi penuh perhatian jika bercakap-cakap dengan orang lain. Ia suka menatap mata lawan bicaranya penuh-penuh. Selama dua minggu berada di Jakarta bersama-sama, kelompok ini kubina agar memiliki spirit sebuah keluarga. Aku sering mencari waktu berbicara dengan mereka, orang-perorang atau orang tuanya yang menjenguk mereka untuk mengetahui pribadi mereka masing-masing. Mungkin karena itu aku dianggap sebagai kakak mereka yang paling sulung. Kami punya waktu sekali dalam dua hari, selama tiga jam untuk bicara dari hati ke hati tentang hal-hal di luar fokus study banding. Dalam banyak kesempatan Fitri membantu saya dalam pengorganisasian kelompok. Ia cepat memahami apa yang harus dikerjakan, tanggap dan mampu melakukan persuasi kepada anggota kelompok lainnya maupoun kepada saya. Dari orang tuanya aku mengetahui Fitri sebagai seorang yang dibiasakan menjadi penurut, disiplin dan santun oleh ibunya. Read more »
Namaku (sebut saja) Andre. Kejadian bermula sekitar 20 tahun lalu, saat itu aku masih berusia sekitar 18 tahun, baru gede, istilahnya. Saat itu ayahku mempunyai istri muda yang berusia sekitar 25 tahun. Namanya (sebut saja) Tetty. Hanya sedikit lebih tua dari kakak sulungku yang berusia 23 tahun. Wajahnya tidak terlalu cantik, tapi sangat eksotis dan kulitnya hitam namun bertubuh seksi. Langsing dan tinggi seperti peragawati, namun mempunyai buah dada dan pantat yang besar dan montok kenyal menggairahkan.
Suatu hari aku diajak oleh ayahku menginap di rumah Tante Tetty. Aku tidur di lantai hanya dengan karpet dan bantal, di satu-satunya kamar tidur yang ada di rumah kecil itu. Tengah malam, entah pukul berapa, aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara-suara aneh yang masih asing di telingaku. Dalam kegelapan, aku melongokkan kepala ke atas ranjang dan kulihat hanya dalam bentuk silhuet, dua orang yang sedang bergumul penuh birahi, saling memagut dan saling memompa sehingga suara decak, erangan, desahan dan kadang jeritan kecilnya terdengar jelas olehku. Karena takut ketahuan, aku kembali berbaring di karpet, namun jelas tak bisa tidur lagi. Bahkan ada yang bangun, tepatnya di antara kedua pahaku, mendengar suara-suara penuh birahi yang membuat khayalanku melayang ke mana-mana itu.
Akhirnya mereka pun selesai dan hanya terdengar suara kecupan-kecupan saja, lalu Tante Tetty turun dari ranjang dan keluar kamar, mau ke kamar mandi kurasa. Saat ia membuka pintu, aku mengintip dari posisiku yang tidur tengkurap. Cahaya dari ruang depan menerangi tubuh telanjang Tante Tetty yang menggairahkan itu. Kulihat dada dan pantatnya yang seksi itu mengkilat oleh keringat. Saat itu aku benar-benar sudah tegang dan bernafsu, namun tak bisa melakukan apa-apa. Setelah sekian lama gelisah, akhirnya aku pun tertidur. Read more »
“Sidang diskors sampai besok!” Dan, Bambang mengetok palu tanda sidang ditunda. Sidang rencananya akan dilanjutkan besok untuk mendengarkan saksi-saksi lainnya. Sidang ini membahas dakwaan terhadap Irsan, seorang pengusaha yang terbukti melakukan tindakan suap untuk mendapatkan proyek triliunan rupiah yang tentu saja merugikan negara puluhan miliaran rupiah. Meskipun termasuk kasus besar yang sedang menjadi cover story di media tanah air, dari sidang ke sidang rasanya Bambang semakin tidak bisa mengalihkan matanya dari sosok wanita berumur 40-an tahun. Terlihat sangat cantik dan dibalut dengan keanggunan dan kemewahan penampilannya. Dari informasi anak buahnya, Bambang mengetahui nyonya cantik itu adalah isteri Irsan. Nyonya Nia, namanya. Di samping Nyonya Nia, adalah Tyas puteri sulungnya yang beranjak dewasa. Sama-sama cantik dan mempesona.
Sebagai Hakim, Bambang dengan mudah mendapatkan informasi tentang keluarga Irsan ini. Nyonya Nia, mantan seorang fotomodel yang cukup terkenal di zamannya. Pantas dia memiliki semua kecantikan itu. Si pemilik kulit putih ini menyukai olahraga senam yoga. Beberapa kali Bambang malah sudah mengintip Nyonya Nia saat latihan. Sangat menggairahkan ketika melihat tubuhnya yang masih langsing basah oleh peluh. Pakaian senamnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna.
“Beruntung sekali Si Irsan ini,”Gumam Bambang dalam hati. Hampir seminggu ini, Hakim ini tidak mampu melupakan setiap lekuk tubuh Nyonya Nia. Tinggi semampai 175 cm, dengan tonjolan buah dada 34 D yang membuat gairah Sang Hakim begitu menggelora. Dan, aku harus bisa merasakan nikmatnya tubuh Nia ini, kata Bambang dalam hati sambil masuk ke ruang kerjanya. Read more »
Sebenarnya, sudah lama saya pingin mencerwulankan kisah nyata ini kepada para penggemar cerita seru. Namun karena kesibukan saya, maka baru saat ini dapat menulis dan mengirim ke situs ini. Kisahku ini sebenarnya sudah terjadi kurang lebih 15 tahun yang lalu saat saya berumur 22 tahun. Merupakan kisah percintaanku dengan “Mbak Tika” (bukan nama sebenarnya) yang sangat mengesankan dalam hidupku, bahwa semua itu terjadi begitu cepat dan indah.
Diskripsi singkat pelaku dalam kisahku ini. Aku “Dino” (sebut saja begitu) tinggi badan 175 cm, banyak orang bilang wajahku seperti Antonio Banderas. Sedangkan pacarku “wulan” (bukan nama sebenarnya) calon dokter umum, saat ini sedang PPT di daerah RS. Sarjidto Jogjakarta, wajah mirip Marisa Haque (bakan lebih cantik) umur 22 tahun, tinggi badan 168 cm, kulit kuning langsat, rambut agak ikal. Sedangkan mbak tika, umur 35 tahun, tinggi badan 170 cm, umur kulit kuning cenderung putih bersih. Wajahnya mirip sekali dengan Sandra Dewi (saat ini), dia seorang pengacara ternama di Jogja. Saat ini saya telah memasuki umur 38 tahun, dan sudah menjadi pengusaha muda yang terbilang sukses. Begini kisahnya…..”.
Sebut saja namaku dino, saya berasal dari sebuah kampung di Jawa Tengah, yang kebetulan diterima kerja disebuah perusahaan multi nasional di Jakarta. Diawal-awal kerja, saya masih sering pulang kampung setiap minggu sekali, dan sempat bergabung dengan perkumpulan “PJKA” (Pulang Jumat Kembali Ahad-red), maklum bujangan. Saya masih harus sering pulang kampung minimal setiap 2 minggu sekali, karena harus memenuhi kebutuhan batiniah, yaitu apel pacar yang masih kuliah di fakultas kedokteran di universwulans ternama di Jogja. Selain untuk kangen-kangenan juga memberikan suport kepada Wulan kekasihku, karena waktu itu sedang detik-detik akhir dalam menyelesaikan PPT di rumah sakit sarjito. Read more »