Kirani Mahasiswi Bugil Ngeseks

Rani tidak meronta ketika sambil berdiri kupeluk dan kulumat bibirnya. Aku tidak pernah menutup mataku kalau sedang berciuman, hal yang bodoh, karena melihat matanya yang terpejam dan hidungnya yang kembang-kempis merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagiku.”Ahh…” kudengar nafasnya yang mendesah saat kupegang dan kuremas payudaranya dari lapisan bajunya, “Oohhh.. hhh…” kurasakan nafasku juga sedikit memburu, kumasukkan tanganku ke dalam bajunya, meraba raba cup BH-nya, menikmati kekenyalan `bemper’nya. Kubiarkan saja tangannya tergantung di sisi-sisi tubuhnya, lagipula, Rani (sesuai pengakuannya) kan masih hijau dalam berpacaran.. hehehe… bingung kali dia harus ditaruh di mana tangannya, tidak seperti Eci yang pasti sudah langsung merogoh celanaku.

“Mmmhh…” kulumat bibirnya yang terbuka, dan kutekan pantatnya dengan tangan kananku sehingga menekan penisku yang mulai `siap grak’. “Hhhh…” hembusan nafasnya terasa mulai cepat… dengan tetap memeluknya (dan tanganku masih meremas payudaranya), kubimbing dia memasuki kamarku. Toh nggak ada orang, jadi kubiarkan pintu kamar terbuka. Kududukkan dia di tepi ranjangku, sip. Kuangkat kakinya dan kujatuhkan kepalanya sehingga ia berada dalam posisi terlentang, sementara aku berjongkok di sebelah ranjang. Kulumat lagi bibirnya, sementara tangan kananku mengangkat bajunya hingga BH-nya menyembul keluar, dan menyelipkan tanganku di BH-nya, merasakan putingnya yang mulai mengeras di ujung jari-jariku.

“Ahhh… uhhh…” Rani mulai mendengus-dengus menikmati sentuhanku. Tanpa pikir panjang, langsung kuraih kancing celananya dan menarik reitsletingnya, ehk, tangannya memegangi tanganku, matanya mendadak terbuka… ups… “Sssshh…. kamu percaya kan sama aku?” bisikku di bibirnya. Dan kulumat bibirnya sebelum ia sempat menjawab apapun. Kurasakan pegangannya pada tanganku melemas, matanya mulai terpejam lagi. Jadi kuteruskan saja. Kumasukkan tanganku di lipatan celana dalamnya yang berwarna krem, merasakan bulu-bulu vaginanya yang lebat, memijat-mijat permukaan vaginanya, merasakan tanganku basah oleh `cairan’nya. “Aahhh… hhh… mmm…” kudengar nafasnya yang mendesah-desah dan matanya berkerut-kerut saat kujepit labia mayoranya dengan jari-jariku, memainkannya, memijat-mijatnya, dan kepalanya tertarik ke belakang saat jari tengahku menemukan kelenjar vaginanya dan menekan-nekan serta menggosok kelenjar tersebut.Akupun tenggelam dalam kenikmatanku sendiri, `adik’ku sudah tegang sekali, jadi akupun bangkit berdiri, melihat matanya yang masih terpejam dan bibirnya yang tergigit.

“Ray.. hhhh…” kudengar ia mengeluh sambil memandangiku saat kutarik celananya berikut celana dalamnya. Bulu-bulu vaginanya terlihat lebat dengan celah yang mengundang, bibir vaginanya tampak memerah, mungkin akibat gesekan dan pijatan jariku tadi. Dan tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut, kumasukkan kepalaku ke dalam lipatan pahanya dan menjilat penuh nafsu, “Aahhkkk… nnggghh…” kudengar ia mengeluh, badannya bergerak-gerak, pahanya menjepit kepalaku saat kugerakkan lidahku menjilat-jilat kelenjar vaginanya. Kunikmati rasa anyir yang memasuki mulutku, kuangkat tanganku, meraih kedua buah dadanya sekaligus, dan menekan-nekan memijat-mijat, membuatnya menjambak-jambak rambutku, pantatnya mulai terangkat dan bergerak liar.

Kutinggalkan vaginanya, dan bangkit berdiri, lalu melepas bajuku dan celanaku. Oh… Rani rupanya lebih memilih untuk tidak melihatku telanjang. Ya sudah, pikirku. Kubuka pahanya dan kutempelkan batang penisku ke atas vaginanya. Mmmhhh… kunikmati benda yang empuk itu menekan penisku. Kubiarkan saja. Kuciumi bibirnya dan kuangkat punggungnya, melepaskan kaitan BH-nya, dan mengangkat bajunya melewati kepala dan tangannya, sementara Rani hanya pasrah saja, sambil sesekali mengeluh nikmat. “Ahhh…” kuhembuskan nafasku penuh kenikmatan saat kujatuhkan tubuhku menempel ke tubuhnya yang telanjang. Kugerak-gerakkan pinggulku, mambuat penisku menekan dan menggesek kemaluannya. Kuciumi matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, menelusuri lehernya, ke dadanya, kuremas payudaranya dan kuhisap putingnya yang berwarna coklat muda secara bergantian.

“Ray… ahh…” kudengar Rani menyebut-nyebut namaku penuh kenikmatan, kutekan penisku lebih kuat, menggesekkannya menelusuri celah vaginanya, licin, terkadang kutarik penisku agak jauh turun, dan menekan maju, sehingga menekan lubang vaginanya dan menyibakkan bibir-bibirnya ke samping. “Ahhhh… kkk… hhh… aahh…” nafasku memburu, dadanya terasa hangat di dadaku, kuciumi lagi bibirnya yang terbuka terengah-engah, kuangkat sedikit dadaku, membiarkan ujung-ujung putingnya menyapu kulitku, kupegang pantatnya dengan tanganku dan kutekan lagi penisku. “Rani… uhhh…” aku mulai terbawa nafsuku sendiri.

Kutarik lagi penisku, dan kali ini menekannya agak kuat, dan (aku sendiri kaget) Rani menjerit kesakitan saat ujung penisku mendadak masuk persis di lubang vaginanya.
“Ray… jangan…”
*******… kepalang tanggung.
“Rani… please…” desahku, ujung penisku masih menancap sedikit di ujung lubangnya yang sempit.

“Ray… jangan, Ray…”
Shit… kutekan lebih dalam… Rani menjerit kecil, “Aaaachkkk… nnggghh…” kulihat air mata menetes di pipinya. Shit… shit…. kugigit lehernya dan.. shit… kutekan sekali lagi lebih dalam.
“Ray… hhkkk…”
Kutarik.. kutekan lagi.
“Rani… uhhhh…”
Ahhkhkkh.. dan cepat-cepat kutarik keluar sebelum spermaku memasuki vaginanya. Kulepaskan gigitanku, merasakan penisku yang menempel di sprei ketika kuturunkan pantatku. Keringat membasahi tubuhku.
“Rani ..?” kucoba memanggil namanya, “Rani…??”
“Rani..!!” kuangkat tubuhku, dan kulihat mukanya yang memerah. Buliran air mata tampak jatuh dari ujung matanya, Rani menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut, hidungnya kembang-kempis. Shit… kulirik ke bawah dan alangkah terkejutnya aku melihat setitik gumpalan darah kehitaman menodai ujung penisku yang mulai mengecil.

“Rani… sakit ya?” tanyaku sambil kuturunkan tanganku menyentuh celah vaginanya, menggosok-gosok sebentar. Kulihat mata Rani masih terpejam dan air matanya masih keluar, bibirnya bergetar. Kugosok lagi celah vaginanya dengan gerakan memijat dan kugosokkan di kulit pantatku.
“Rani… sori yah… sakit?” terus kuulang-ulang pertanyaan itu sambil tetap menggosok-gosok, akhirnya kulihat tangannya terangkat menutupi matanya, dan Rani mengangguk perlahan.
“Uuuuh.. sayang…” kukecup manja bibirnya.
“Kusayang, yah?” tanyaku pelan dan dia mengangguk. Kuturunkan kepalaku ke perutnya, terus turun sehingga aku dapat melihat dengan jelas kondisi vaginanya. Wah, lumayan hancur.

Kuperhatikan dengan seksama, memastikan tak ada noda yang menempel, kubelai noda-noda yang tersisa dengan tanganku, membaurkannya dengan air liurku, dan menggosokkannya di pantatku sambil berkata, “Disayang, yaa… cup cup…” Sebentar-sebentar kutekan permukaan vaginanya, memastikam cairan itu tidak keluar lagi. Setelah yakin semuanya bersih. Kutarik tubuhku ke sampingnya, kupeluk Rani dengan mesra, dan kubisikkan di telinganya,
“Rani… kamu tahu apa yang membuatku senang saat ini?”
Rani menggeleng lemah, tangannya masih menutupi matanya.
“Hihihi… bener mau tahu?”
Rani diam saja… bahunya masih bergerak-gerak.
“Ngga sampai bobol kok… tuh lihat saja… masih bersih…”
Dan Rani mengangkat tangannya, tertawa sambil menangis dan memelukku.
“Kan aku sudah bilang tadi… percaya dong sama Ray,” ucapku setengah berbisik, dan kukecup keningnya. Ahh… Rani.

Uwaahh… aku mungkin harus bersyukur entah pada setan mana soalnya spreiku tak sampai ternoda, bisa cialat deh kalau Rani melihat ada noda di situ. Dan… satu lagi nama perawan masuk ke buku harianku.

Conference Call Service, Find Cheap Flights, Hard Rock Hotel Bali

Search Terms: cache:5UiBVSpFj5IJ:cewek jepun info/kumpulan-cerita-stensil-dewasa html cerita stensil bokep, cache:GnEWSUiN6eQJ:cewek jepun info/lalatx-x-tentang-pesta-sex-cianjur-video-anak-smu-2 html lalatx com, Mahasiswa bugil ray & kirani,